Kamis, 03 Mei 2012

Prosa

Katak Menjadi Lembu

Namanya Zubaedah. Panggilan akrabnya Edah. Sebagai bunga desa Edah adalah gadis santun, berbudi baik, hormat pada orang tua. Ayahnya, seorang haji kaya raya, Haji Hasbullah namanya, telah memilihkan calon suami untuk Edah. Tentu, bukan sembarang lelaki. Tentu, bukan lelaki sembarangan. Raden Prawira, seorang yang berpangkat maneri polisi. Edah pun tidak menolaknya. Edah bayangkan sebuah keluarga zakinah akan ia bangun dengan Raden Prawira. Terbentang di hadapan Edah masa depan yang membahagiakan.

Namun, perhitungan manusia tidaklah sama dengan rancangan Tuhan. Masa depan suram terbayang ketika Edah harus menghadapi kenyataan. Menerima pinangan Suria, anak manja-sombong-angkuh, putra Haji Zakaria, sahabat ayahnya. Haji Zakaria datang meminta agar Suria dan Edah dinikahkan. Dan, Edah pun tidak berdaya. Ia menikah dengan Suria tanpa dilandasi cinta.

Hari-hari berlalu. Edah jalani hidup keluarga dengan kehampaan. Hingga anak pertamanya, Abdulhalim, lahir. Edah pun tidak mengumpat ketika Suria meninggalkan rumah.Meskid, ia baru saja melahirkan. Dengan berbekal harta warisan, begitu ayah Suria meninggal, Suria hidup berfoya-foya. Selama tiga tahun Suria bergelimang kesenangan tanpa ingat istri dan anaknya.

Begitu uang Suria habis, Suria pulang. Ia meminta maaf. Edah pun mengampuni. Tiga tahun tanpa diberi nafkah dan menelantarkan anak pertamanya tak membuat Edah marah dan berputus asa. Tanda pertobatan Suria adalah bekerja mencari nafkah. Suria bekerja di kantor asisten di kabupaten sebagai juru tulis. Dengan penghasilan yang kecil, yang tidak mencukupi hidup sehari-hari, Suria pun meminta pada Edah agar anak sulungnya dititipkan pada kakeknya. Edah pun menyetujuinya.

Abdulhalim pun bersekolah di Bandung. Sekolah bergengsi milik Belanda. Orang tua Edah yang menanggung biayanya. Sementara itu, anak Suria terus bertambah. Dan, demi memenuhi kebutuhan anak-istri itulah Suria gali lubang-tutup lubang. Utang Suria tak tertanggungkan.

Akibatnya, pertengkaran selalu terjadi antara Edah dan Suria. Edah merasa malu karna setiap hari orang datang silih berganti untuk menagih utang. Sedangkan, Suria bersikap masa bodoh. Utang terus bertambah. Halal segala cara pun dilakukan. Ia mengambil barang-barang kantor. Hilanglah pekerjaannya.

Suria yang telah kehilangan pekerjaan,mengajak Edah dan anaknya untuk tinggal di rumah anak sulungnya yang telah berkeluarga. Tanpa rasa malu Suria menggantungkan hidup pada Abdulhalim. Edah semakin tertekan. Sangat tertekan. Tertekan atas perkawinannya dengan Suria. Edah meninggal.

Suria pun meninggalkan rumah anak sulungnya. Seperti seekor katak yang bermimpi untuk menjadi lembu. Suria berjalan dan terus berjalan dalam keangkuhan, kesombongan.
Kesimpulan : Jangan hidup sombong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar